![]()
Berazaskan Alqur`an-Hadists dan Pancasila serta Islam ahlusunah wal jamaah Assyafiyyah Annahdiyah.
![]()
Berazaskan Alqur`an-Hadists dan Pancasila serta Islam ahlusunah wal jamaah Assyafiyyah Annahdiyah.

Tahun lalu, pada peringatan Hari Lahir (Harlah) Pondok Pesantren Nurul Huda (PPNH) Sukaraja Ke-45, Yayasan PPNH Sukaraja merangkainya dengan kegiatan peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW dan Kuliah Ifitah Universitas Nurul Huda Tahun Akademik 2025/2026 dengan tema “45 Tahun PPNH Sukaraja: Momentum Jihad Literasi & Digitalisasi Santri Merawat Komering Menyiapkan Masa Depan Peradaban.”
Tahun ini, YPPNH Sukaraja kembali merangkai kegiatannya secara strategis sekaligus taktis dengan mengemas Haflah Akhir Sanah, Halal Bi Halal dan Temu Alumni Tahun Akademik 2025/2026 dengan mengangkat tema “Peningkatan Mutu Ekosistem Pesantren Kurikulum Menuju 50 Tahun PPNH Sukaraja (Mutu Teruji Alumni Terbukti: dari Kitab ke Khidmah).”
Kegiatan diselenggarakan pada Ahad, 24 Mei 2026. Dipusatkan di halaman Kampus B Universitas Nurul Huda (Unuha). Keseluruhan perhelatan berjalan bagai sebuah simfoni yang rapi, bergerak dari kemeriahan seni santri, masuk ke khidmatnya konsolidasi gagasan, dan ditutup dengan selebrasi penghargaan serta ramah tamah yang hangat.


Panggung Syiar dan Spiritual
Sejak pagi hari, Desa Sukaraja terutama di lingkungan Kampus B Unuha sudah berdenyut dengan energi yang amat besar. Sembari panitia sibuk mengondisikan jamaah dan wali santri untuk mengisi barisan kursi, atmosfer Kampus B Unuha mulai dihangatkan oleh kreativitas santri lintas generasi. Dimulai dari ketukan rebana Tim Hadrah gabungan, keceriaan siswi cilik Raudhlatul Athfal Nurul Huda Sukaraja yang membawakan Tari Bungong Jeumpa, hingga syahdunya lantunan Asmaul Husna oleh anak-anak Madrasah Ibtidaiyah Nurul Huda Sukaraja, semuanya menyuguhkan dinamika prestasi non-akademik sejak usia dini.
Suasana bergeser menjadi lebih kontemplatif dan tajam saat santri PPNH Tanah Merah menyajikan Syarhil Qur’an tentang pentingnya etika bermedia sosial dan prinsip tabayyun di era digital. Panggung lalu sepenuhnya dikuasai oleh gemuruh suara santri Madrasah Diniyah yang melantunkan bait-bait kaidah gramatika Arab (Lalaran Nadhom) secara kolosal—sebuah bukti visual dari ketatnya tradisi literasi kitab kuning yang mereka pelajari, mulai dari Kitab Jurumiyah, Imriti, hingga Alfiyah Ibnu Malik.
Sebelum memasuki sesi inti, hadirin melebur dalam getaran spiritual melalui pembacaan tawasul, dzikir istighosah, dan doa bersama yang dipimpin oleh para asatidz. Keagungan budaya lokal kemudian disuguhkan lewat Tari Gending Sriwijaya oleh mahasiswi Unuha, sebelum akhirnya MC resmi membuka acara, jemaah berdiri tegap menyanyikan lagu Indonesia Raya, dan aula seketika benderang oleh pendar lampu flash ponsel jemaah yang mengiringi lantunan Selawat Jibril serta penarikan sedekah massal bagi pembangunan pondok.

Dialektika dan Komitmen Masa Depan
Sesi pidato formal menjadi wadah bertemunya pemikiran strategis antara pengurus, alumni, dan pendiri. Drs. H. Muhammad Tasdiq, M.Pd.I., Ketua YPPNH Sukaraja membuka mimbar dengan menegaskan bahwa esensi Haflah Akhir Sanah adalah wadah syukur atas keterujian mutu kurikulum santri selama satu tahun penuh. Tokoh alumni pertama yang sehari-harinya juga bertugas sebagai Kepala KUA Kecamatan Martapura, Kabupaten OKU Timur ini mengingatkan bahwa pesantren adalah benteng utama pertahanan moral negara.
Estafet narasi perjuangan di atas disambut dengan penuh haru oleh H. Yansi Askari, S.Pd.I., sebagai perwakilan wali santri dan alumni angkatan 2007. Guru P3K di salah satu SD Negeri di OKU Timur ini menyatakan kekagumannya atas lompatan besar almamaternya dari sebuah tempat pengajian kitab kuning hingga mampu menjadi sebuah universitas. Dirinya juga menyampaikan ketakjubannya melihat santri usia muda yang sudah fasih menguasai Kitab Alfiyah.
Arah pergerakan pondok semakin dipertegas oleh Dr. Fahamsyah, M.Pd.I., Ketua Badan Pengawas Pemilu (Bawaslu) Provinsi Bengkulu yang juga Ketua Ikatan Keluarga Alumni Nurul Huda (Ikanuha) Provinsi Bengkulu. Dalam orasi ilmiahnya, ia membongkar sejarah visioner PPNH sebagai pelopor “Pesantren Kurikulum” di Sumatra, menyerukan maklumat agar seluruh alumni tetap tegak lurus mengawal kepemimpinan kiai, serta membekali jemaah dengan empat pilar keselamatan dunia-akhirat.

Gagasan-gagasan besar di atas kemudian dikunci secara legal dan formal oleh Dedy Mardiansyah, M.Pd., Wakil Ketua YPPNH Sukaraja. Melalui pembacaan Deklarasi Sistem Mutu Pesantren Kurikulum, Dedy yang juga Pembina Yayasan Tarbiyah Rejang Lebong ini mengetengahkan sebuah cetak biru tertulis yang mengintegrasikan sains, sanad, dan digitalisasi demi menyongsong Usia Emas 50 Tahun PPNH pada September 2030.

Sebagai muara dari seluruh rangkaian pemikiran, Romo K.H. Afandi, BA., selaku Pendiri dan Pengasuh PPNH Sukaraja juga Ketua Badan Pembina YPPNH Sukaraja, menyampaikan Mauidhoh Hasanah yang sarat akan wejangan mendalam. Sambil bernostalgia tentang beratnya merintis pesantren kurikulum di masa lalu, beliau menegaskan bahwa semua ilmu (termasuk sains dan bahasa) adalah milik Allah.
Alumni Pesantren Sriwangi dan Pesantren Lirboyo ini juga melempar instruksi tegas tanpa kompromi bahwa promosi pendidikan tidak boleh membohongi publik (ngapusi), keuangan yayasan harus bersih dari kepentingan pribadi, dan seluruh mahasiswa muslim Unuha mutlak wajib fasih membaca Al-Qur’an serta mampu khotbah Jumat sebelum mereka diwisuda.
Apresiasi, Dokumentasi, dan Kebersamaan
Setelah Romo K.H. Afandi menutup ceramahnya dengan untaian doa khusyuk tepat pada tengah hari, acara beralih ke segmen apresiasi yang penuh sukacita. Jajaran pimpinan yayasan dan rektorat naik ke panggung untuk membagikan uang pembinaan kepada para santri peraih nilai akademik tertinggi dari tingkat SD hingga SMA, serta para juara hafalan dan pemahaman kitab kuning (Hifdu Wal Fahmi). Universitas Nurul Huda juga memberikan apresiasi khusus dan beasiswa gratis bagi santri-santri berprestasi yang berhasil menyabet medali emas di tingkat provinsi dan nasional dalam ajang olahraga karate, pencak silat, dan Olimpiade Sains Nasional (OSN). Acara kemudian memasuki sesi dokumentasi maraton yang sangat masif namun teratur. Secara bergantian, panggung diisi oleh rolling session foto bersama antara Romo K.H. Afandi dan Ibu Nyai Hj. Ummi Fadhilah, S.Pd.I., beserta para Dzurriyat, dan jajaran Yayasan dengan para wisudawan kelas akhir dari tiap unit sekolah (SMA, SMP, MTs, SMK, MA, hingga murid MI), termasuk Tim Medis Yayasan dan segenap Pendidik dan Pegawai Yayasan. Sesi foto ini mencapai puncaknya saat sekitar 450 tenaga pendidik, dosen, dan staf kepegawaian se-yayasan yang berseragam batik kebesaran memenuhi panggung, menggemakan yel-yel video kompak: “Nurul Huda… Jaya, Jaya, Jaya, Sempurna!” (DMS. Harby)